sumber: republika
Perubahan genetik akibat polusi udara yang mengakibatkan penyakit asma bisa terjadi sejak bayi dalam kandungan.
Ada banyak pesan kehati-hatian untuk para ibu yang sedang mengandung. Satu diantaranya adalah agar menghindari udara yang penuh dengan polusi agar sang jabang bayi terhindari dari penyakit asma. Sebuah hasil penelitian terbaru mengungkapkan, anak-anak yang lahir di kawasan lalu lintas padat beresiko besar untuk mengidap penyakit asma. Mereka mengalami perubahan genetik akibat polusi, yang telah terjadi sejak ia masih dalam kandungan.
Dalam sebuah penelitian terhadap sampel darah yang diambil dari anak-anak New York, para ahli menemukan perubahan pada sebuah gen yang dinamakan ACSL3. Perubahan ini terkait dengan paparan prakelahiran terhadap polutan kimia yang disebut polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs). Zat ini merupakan produk sampingan dari proses pembakaran bahan bakar fosil yang tak sempurna, dan terkonsentrasi tinggi di kawasan lalu lintas padat.
Paparan terhadap PAHs juga dikaitkan dengan sejumlah penyakit seperti kanker. Para peneliti mengatakan, temuan ini menghadirkan petunjuk penting dalam memprediksi asma yang terkait lingkungan pada anak kecil. Terutama mereka yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang berdomisili di kawasan lalu lintas padat.
Perubahan genetik ini disebut perubahan epigenetik. Perubahan tersebut dapat mengubah fungsi normal gen tapi tak menyebabkan perubahan struktural atau mutasi pada gen tersebut.”Data kami mendukung konsep bahwa paparan terhadap lingkungan dapat mengubah gen dalam masa pertumbuhan kunci, untuk memicu penyakit yang akan muncul pada tahap kehidupan berikutnya. Jaringan tersebut diprogram untuk menjadi abnormal pada masa mendatang”,kata Shuk-mei Ho, peneliti pada University of Cincinnati yang merilis hasil penelitiannya di jurnal PLoS ONE edisi 16 Januari lalu.
Para peneliti menganalisa sampel sel darah putih tali pusar dari 56 anak. Mereka meneliti perubahan epigenetik terkait paparan kelahiran terhadap PAHs di kawasan Manhattan Utara dan Bronx Selatan. Paparan sang ibu terhadap PAHs dimonitor sepanjang kehamilan dengan menggunakan monitor udara yang dikemas dalam tas ransel.
Para ahli menemukan hubungan signifikan antara perubahan pada ACSL3 methylation sebuah gen yang dihasilkan oleh paru-paru dengan paparan PAHs pada ibu hamil. ACSL3 juga berhubungan dengan laporan dari para orang tua atas gejala asma pada anak menjelang usia lima tahun.
“Penelitian ini ditujukan untuk mendeteksi gejala awal dari resiko asma, sehingga kita bisa lebih baik dalam mencegah penyakit kronis yang menyerang sekitar 25 persen dari anak-anak di Manhattan Utara dan wilayah lainnya”,kata Frederica Perera dari Columbia University, yang turut menulis laporan peneilitan tersebut.
Para ahli mengatakan, masih dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk mendukung temuan tersebut. Jika penelitian ini telah dikonfirmasi, maka perubahan pada gen ACSL3 bisa menjadi pijakan dalam diagnosa awal terhadap asma yang terkait polusi.”Mendeteksi lebih awal penyebab asma adalah area penyelidikan yang sangat penting, karena hal ini menggambarkan target potensial dan intervensi”,kata Rachel Miller dari Columbia Center for Children’s Environmental Health, salah satu anggota penelitian ini.
Penelitian tersebut dibiayai oleh National Institute of Environmental Health Sciences, Environmental Protection Agency (EPA), dan lembaga-lembaga swasta AS. Menurut Keith Prowse, wakil direktur Yayasan Paru-paru Inggris, penelitian tersebut sungguh menarik.”Kami tahu anak-anak yang tinggal di daerah polusi memiliki insiden asma yang lebih tinggi.Yang tidak kami tahu adalah itu ternyata mengubah gen”,ujarnya.
Karena itu, kata Prowse, jika melihat sel darah di tali pusar seorang anak dan menemukan gennya telah termodifikasi, hal itu menandakan anak tersebut kemungkinan akan terkena asma.Jadi Anda dapat memberikan perawatan secara dini,ujarnya.Prowse menilai kemungkinan ada banyak faktor yang berkontribusi dalam berkembangnya penyakit asma. “Isu ini memang masih membingungkan. Tapi, dalam sepuluh tahun ke depan, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas”, tandasnya.johar arif.
Mengapa Asma Menyulitkan Pernafasan
Udara masuk ke dalam sistem pernafasan melalui hidung dan mulut kemudian bergerak menuju saluran tenggorokan
Pada orang yang menderita asma, otot pada saluran tenggorokan menjadi kaku dan menebal dan jalan udara menjadi meradang serta berisi cairan sehingga sulit dilalui oleh udara (kanan)
Pada orang yang tidak menderita asma, otot yang mengelilingi saluran tenggorokan lega dan jarngan ototnya encer sehingga mudah dilalui udara .





