Sumber: mommygadget.com
Menyapih
Sering jadi pertanyaan banyak orangtua, “Kapan sih usia yang tepat untuk menyapih anak dari masa menyusu pada ibunya? Kemudian bagaimana cara menyapih yang terbaik? Sebetulnya apa sih yang dimaksud dg kata ‘menyapih’ itu sendiri?”
Menyapih adalah suatu proses berhentinya masa menyusui secara berangsur-angsur atau sekaligus. Proses tsb dapat disebabkan oleh berhentinya sang anak dari menyusu pada ibunya. Atau bisa juga berhentinya sang ibu untuk menyusui anaknya. Atau bisa juga keduanya. Jadi bisa dengan berbagai alasan.
Masa menyapih ini merupakan pengalaman emosional bagi sang ibu, anak juga sang ayah. Karena 3 pihak tadi (Ibu-Ayah-Anak) merupakan ikatan kesatuan yang tidak boleh dilupakan. Kenapa ayah juga terlibat? Karena ayah juga berperan dan memberikan pengaruh tersendiri dalam proses menyusui.
Kapan anak harus disapih?
Banyak yang bertanya juga kapan sebaiknya anak disapih dari ibunya, atau kapan waktu yang tepat untuk menyapih.
Sebetulnya tidak ada ketentuan khusus atau batasan khusus kapan anak harus disapih. Jadi tidak ada aturan bahwa pada umur sekian anak harus disapih dari ibunya.
Menurut WHO, masa pemberian ASI diberikan secara eksklusif 6 bulan pertama, kemudian dianjurkan tetap diberikan setelah 6 bulan berdampingan dengan makanan tambahan hingga umur 2 tahun atau LEBIH. Jadi tidak ada batasan di umur berapa. Ini artinya tidak ada aturan bahwa pas pada umur 2 tahun anak harus disapih dari ibunya.
Banyak orangtua menyapih anaknya pada umur 1-2 tahun, ada juga yang umur 3 tahun anaknya baru disapih bahkan ada juga yang umur 4 tahun.
Sampai kapan proses/masa menyusui dapat dilanjutkan? Jawabannya: Selama ketiga pihak (ibu-anak-ayah) masih menginginkan. Itu artinya jika sang ibu/sang anak/sang ayah sudah tidak menginginkan, maka proses menyapih dapat dilakukan.
Misalnya, sang ibu punya deadine (batas waktu) tersendiri bahwa pada umur sekian si anak harus disapih tetapi sang ibu masih enjoy dan sang anak juga masih menginginkan, maka tidak perlu disapih. Intinya, pilih timing yang paling nyaman untuk semua pihak.
ASI lebih dari 1 tahun jelek dan tidak bergizi?
Sering ada anggapan bahwa ASI itu sudah jelek kalau anak sudah berusia 1 tahun ke atas. Nah apalagi jika anak berusia 2 tahun, betulkah ini?
Opini bahwa ASI itu jelek setelah 1 tahun ternyata sama sekali tidak benar. ASI tetap kaya akan nutrisi. Menurut penelitian Dewey KG dalam artikel “Nutrition, Growth, and Complementary Feeding of the Breastfed Infant”. Pediatric Clinics of North American. February 2001;48(1)), bahwa ASI lebih dari 1 tahun kaya akan nutrisi:
* 43% kebutuhan protein
* 36% kebutuhan kalsium
* 75% kebutuhan vitamin A
* 60% kebutuhan vitamin C
Ini belum termasuk zat antiinfeksi/antikuman yang tetap dan selalu ada dalam ASI yang manfaatnya sangat luar biasa untuk melindungi bayi dari berbagai penyakit.
Jadi tidak pernah ada istilah ASI jelek. Kandungan gizi ASI itu sangat fleksibel sesuai kebutuhan sang anak. Komposisinya tidak pernah sama dan selalu berubah bahkan tiap menit. Ini berbeda sama sekali dengan kandungan susu formula yang itu-itu saja.
Sampai saat ini banyak anggapan bahwa jika anak disusui terus nantinya anak susah disapihnya. Atau banyak juga yang menganggap anak akan jadi tidak mandiri. Benarkah hal ini?
Hingga saat ini tidak ada/belum ada penelitian khusus yang membuktikan bahwa ada hubungan antara usia anak disapih dengan kemandirian anak. Kenyataan yang ada sering sekali orang merancukan/mencampuradukkan kedekatan orangtua dengan si anak, dengan manja atau kurang mandiri.
Apakah kedekatan dengan orangtua sama dengan manja? Belum tentu kan? Bukankah secara psikologis pada usia tersebut anak justru memang membutuhkan kedekatan yang bagus dengan orangtuanya. Sementara itu banyak sekali anak yang disapih di usia lebih dari 1 atau 2 tahun tetap menjadi anak yang mandiri. Jadi kembalikan lagi ke definisi mandiri itu bagaimana.
Cara terbaik menyapih anak
Tidak ada cara khusus dalam menyapih. Beberapa ahli laktasi memberikan tips-tips agar proses menyapih berjalan dengan baik:
1. Lakukan proses menyapih secara perlahan.
Misalnya mengurangi secara bertahap frekuensi menyusu. Biasanya 4x sehari maka secara perlahan diubah 3x sehari terus hingga akhirnya berhenti.
2. Alihkan perhatian anak/sibukkan anak dengan hal lain.
Bisa dengan membacakan buku ke anak, bermain, bernyanyi dsb. Hingga anak melupakan saat menyusu.
3. Kunci utama: bina komunikasi yang baik dengan anak.
Ingat, seberapa kecil usia anak, anak tetap mengerti dan memiliki kemampuan untuk mengerti kata-kata dari orang di lingkungannya.
4. Hindari menyapih saat anak sedang tidak sehat atau sedang sedih, kesal, marah.
5. Hindari menyapih anak dari menyusu ke benda lain seperti empeng, botol susu, bantal dsb.
Biasanya disini peran ayah sangat dibutuhkan sebagai figur yang melengkapi sang ibu. Sekali lagi bina komunikasi yang baik dengan anak.
6. Hindari menyapih secara mendadak/langsung.
Pemberian jamu pahit, memaksa anak untuk tidak menyusu pada ibunya dsb dapat merusak bonding atau ikatan batin yg terbentuk sejauh ini dalam proses menyusui. Amat sangat disayangkan jika hal ini terjadi. Karena ikatan indah tersebut ternodai akibat proses menyapih secara mendadak tadi.
7. Terakhir, KOMUNIKASI, komunikasi dan komunikasi.
Ajaklah anak berkomunikasi dan berdiskusi. Jelaskan dengan baik alasan dan langkah menyapih yang akan dilakukan. Apalagi tanpa komunikasi apapun dengan si anak, ini dapat menyakitkan hati sang anak. Jangan sampai anak merasa bahwa dengan manyapih sang ibu membencinya dsb.
Jika proses penyapihan dilakukan dengan baik, maka anak-anak kita akan tumbuh menjadi anak yang cerdas, sehat dan berakhlak baik. Karena sang ibu mendidiknya melalui masa menyusui dan masa menyapih dengan cinta.
Sumber: Luluk Lely Soraya Ichwan







