sumber : tabloid-nakita.com
Kenali tanda dan gejalanya sedini mungkin. Pengobatan terbaik adalah pencegahan dan meminimalkan frekuensi kekambuhannya.
Yang dimaksud alergi,jelas Dr. Widodo Judarwanto, Sp.A, kumpulan gejala klinik yang dapat menyerang sistem tubuh atau beberapa organ tubuh. Mulai kulit, saluran pernapasan, saluran pencernaan, bahkan bisa mengganggu fungsi otak.
Menurut spesialis anak dari
Tidak seperti penyakit lain yang biasanya masuk ke tubuh akibat sistem kekebalan tubuh yang lemah, penyebab alergi justru karena antibodi yang berlebihan.
Antibodi yang harusnya melindungi tubuh terhadap zat yang berbahaya, seperti bakteri, virus, dan racun, pada penderita alergi, respon sistem kekebalan tubuhnya malah bereaksi terhadap zat yang sebenarnya tak berbahaya. Tak heran, tatkala penderita alergi terkena alergen/zat pencetus alergi yang bagi orang lain tidak menimbulkan reaksi apa-apa, namun pada penderita akan memberi reaksi berlebihan.
BISA MENGGANGGU OTAK
Masalahnya, tandas Widodo, walau cukup akrab dikenal, namun banyak yang tidak tahu jika alergi bisa mengganggu seluruh fungsi atau sistem tubuh penderita, termasuk sistem susunan saraf pusat atau otak. Lo, bagaimana bisa? “Diduga karena pada proses alergi terjadi pengeluaran zat mediator imunologis seperti histamin dan sejenisnya yang menembus jaringan otak sehingga mengganggu fungsi otak. Meskipun tidak berbahaya seperti gangguan otak lainnya tapi kelainan tersebut cukup mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.
Ketika zat pencetus alergi masuk ke tubuh, antibodi penderita akan merespon dengan mengeluarkan zat-zat yang malah mengganggu sistem tubuhnya sendiri, termasuk organ otak yang juga akan terstimulasi oleh zat-zat tersebut,” ujar Widodo. Dampak terberat, alergi sering dikaitkan sebagai salah satu faktor yang memperparah autisme. Sebenarnya bila anak tidak memiliki genetik autis walaupun ia menderita alergi, ia tidak akan terkena autis. Namun bila ada faktor genetik autis sementara ia penderita alergi, maka gangguan autisnya bisa diperparah.
Saran Widodo, waspadailah ketika ada salah seorang anggota keluarga yang memiliki bakat alergi. Jika salah satu orang tua menderita alergi, maka sekitar 15-30 persen anaknya akan berisiko menderita alergi juga.
Sementara bila kedua orang tuanya penderita alergi, risiko si anak terkena pun akan makin tinggi, yakni 50-75 persen. Nah, bila ada kecurigaan si kecil ke arah situ, kenali tanda dan gejala alergi sedini mungkin. Selanjutnya, jika gejala-gejala sudah ditemui, konsultasikan pada dokter karena semakin dini ditangani akan semakin baik. Penegakan diagnosis alergi pada anak dapat dilakukan oleh dokter spesialis anak atau dokter spesialis anak dengan minat alergi anak. Beberapa hal yang sangat membantu penegakan diagnosis alergi pada anak adalah tes kulit alergi, foto rontgen dada, pemeriksaan darah (IgE total, RAST, hitung eosinofil), uji eliminasi provokasi dan pemeriksaan lainnya.
Yang perlu diketahui, pemberian obat-obatan secara terus-menerus bukanlah pemecahan terbaik. Cara paling aman adalah tindak pencegahan dan meminimalkan frekuensi kekambuhannya. Widodo menyarankan agar orang tua mencari tahu apa yang menjadi alergen pada si kecil. Hingga ketika tahu asma anaknya akan kambuh setiap kali terkena paparan debu, ya, hindari debu dengan selalu menjaga kebersihan lingkungan. Namun diakui Widodo untuk mengetahui penyebab/pencetus alergi memang tak mudah, meski bukan berarti tidak bisa sama sekali. Pengalaman adalah indikator terbaik untuk mengenalinya. Paling tidak kita dapat menduga apa yang menjadi alergen. Namun untuk mengukuhkan diagnosis itu perlu pemeriksaan lebih lanjut seperti dengan pemeriksaan darah dan tes alergi.







